PELIHARALAH ILMU
Saat kutulis tulisan ini suasana ujian nasional tengah dilaksanakan. Ujian nasional tingkat SMA dan SMP telah usai - tersisa ujian nasional tingkat SD yang baru menginjak haari ke-2.
Dulu saat aku masih usia SD, orangtuaku sering mengingatkan tentang menghafal pelajaran sekolah, karena dalam persepsinya sekolah adalah wadah para pelajar menghafal pelajaran. Hal itu tak salah. Karena hampir sebagian besar orang saat itu, termasuk para guru selalu mengingatkan muridnya untuk menghafal pelajaran.
Saat inipun suasana menghafal masih kental dilakukan oleh para pelajar, bisa jadi termasuk mahasiswa. Hal tersebut sebenarnya sangat merugikan dunia keilmuan - dunia pengembangan ilmu. Sebab ilmu hanya dihafalkan, ketika bertemu dengan permasalahan hidup-maka ilmu itu tidak bisa memecahkannya. Permasalahan tidak bisa hanya dipecahkan oleh hafalan.
Supaya kita mampu memecahkan masalah dalam kehidupan, maka ilmu yang kita hafal perlu dipelihara. Bagaimana memelihara ilmu? Minimal ada 4 (empat) tahap, yaitu : tahap pertama, menghafal ilmu, tahap kedua memikirkan, merasionalkan, melogikakan ilmu; tahap ketiga, meyakini ilmu (ikhlash menerima kebenarannya); dan tahap keempat, mengimplementasikan ilmu.
Selasa, 04 Mei 2010
Senin, 03 Mei 2010
MAKSUD BAIK BERUJUNG KEMATIAN
MONYET DAN IKAN
Alkisah di hutan belantara berkumpullah sekelompok kera dan sekelompok ikan, yang satu sama lain saling bertetangga dan hidup tenteram. Setiap hari kera-kera mencari makan di dahan dan pohon-pohon yang tumbuh di pinggir aliran sungai. Pada aliran sungai inilah ikan-ikan hidup dan mencari makan. Kehidupan mereka rukun dan damai. Kelompok kera dan ikan selalu bertegur sapa satu sama lain, bercengkerama dan bersenda gurau.
Pada suatu saat, di musim hujan terjadilah hujan deras dan berlangsung lama, yang mengakibatkan banjir melanda sungai dan wilayah hutan tersebut. Para kera menyelamatkan diri dengan menetap di atas pohon dan dahan-dahan pohon yang berada di atas aliran banjir itu. Sementara para ikan berloncatan kegirangan karena banyaknya makanan yang terbawa air banjir itu. Dengan perhatian penuh para kera memperhatikan ikan-ikan yang berloncatan itu, dan dalam benaknya menganggap bahwa ikan-ikan itu sedang menghadapi bencana banjir, dan harus ditolong dengan segera. Terdorong rasa kesetiakawanan dan "perikehewanan" para kera menangkap ikan-ikan tersebut dan 'mengamankannya' di atas dahan selayaknya para kera mengamankan dirinya itu. Sesaat, para kera merasa gembira atas kesuksesannya menolong para ikan itu dari bencana banjir dan menempatkannya di atas dahan supaya aman. Akan tetapi, setelah beberapa saat.... para ikan yang 'diamankan' di atas dahan itu tidak bergerak. Maka...... bersedihlah para kera demi melihat teman-temannya tidak bergerak - diam - di atas dahan.
Setelah peristiwa itu......... senyaplah belantara itu.
Mengapa hal itu terjadi? Apa yang bisa kita pelajari dari kisah tersebut, dikaitkan dengan peluncuran program-program pemberdayaan masyarakat? Apakah kita sering berada pada posisi kera atau ikan ?................................SELAMAT MENCERMATI dan MENELAAH.
Alkisah di hutan belantara berkumpullah sekelompok kera dan sekelompok ikan, yang satu sama lain saling bertetangga dan hidup tenteram. Setiap hari kera-kera mencari makan di dahan dan pohon-pohon yang tumbuh di pinggir aliran sungai. Pada aliran sungai inilah ikan-ikan hidup dan mencari makan. Kehidupan mereka rukun dan damai. Kelompok kera dan ikan selalu bertegur sapa satu sama lain, bercengkerama dan bersenda gurau.
Pada suatu saat, di musim hujan terjadilah hujan deras dan berlangsung lama, yang mengakibatkan banjir melanda sungai dan wilayah hutan tersebut. Para kera menyelamatkan diri dengan menetap di atas pohon dan dahan-dahan pohon yang berada di atas aliran banjir itu. Sementara para ikan berloncatan kegirangan karena banyaknya makanan yang terbawa air banjir itu. Dengan perhatian penuh para kera memperhatikan ikan-ikan yang berloncatan itu, dan dalam benaknya menganggap bahwa ikan-ikan itu sedang menghadapi bencana banjir, dan harus ditolong dengan segera. Terdorong rasa kesetiakawanan dan "perikehewanan" para kera menangkap ikan-ikan tersebut dan 'mengamankannya' di atas dahan selayaknya para kera mengamankan dirinya itu. Sesaat, para kera merasa gembira atas kesuksesannya menolong para ikan itu dari bencana banjir dan menempatkannya di atas dahan supaya aman. Akan tetapi, setelah beberapa saat.... para ikan yang 'diamankan' di atas dahan itu tidak bergerak. Maka...... bersedihlah para kera demi melihat teman-temannya tidak bergerak - diam - di atas dahan.
Setelah peristiwa itu......... senyaplah belantara itu.
Mengapa hal itu terjadi? Apa yang bisa kita pelajari dari kisah tersebut, dikaitkan dengan peluncuran program-program pemberdayaan masyarakat? Apakah kita sering berada pada posisi kera atau ikan ?................................SELAMAT MENCERMATI dan MENELAAH.
Jumat, 16 April 2010
KOMUNIKASI "WAW ALIF"
KOMUNIKASI "WAW - ALIF"
Alkisah diceritakan sepasang muda mudi beda kebangsaan menjalin persahabatan.
Sang pemuda berbangsa Arab dengan perawakan tinggi besar, sedangkan Sang pemudi berbangsa Tionghoa (China) dengan perawakan sedang. Karena keduanya tinggal di wilayah Pasundan, keduanya, juga keluarganya pandai berbahasa Sunda, disamping bahasa nenek moyangnya, yaitu Bahasa Arab dan Bahasa China Mandarin.
Sang Pemuda Arab setiap harinya berkegiatan berniaga, dan suka memasak di waktu-waktu senggangnya. Sementara itu, Sang Pemudi China setiap harinya mengajar anak-anak di taman kelompok bermain. Hampir setiap sore hari Sang Pemudi China ini bertugas memandikan keponakannya yang berumur 6 (enam) tahunan.
Karena seringnya bertemu, bertukar fikiran, dan bercengkerama bersama, persahabatan keduanya berubah menjadi berpacaran, yang 14 bulan berikutnya mereka berjanji setia untuk hidup berdampingan sebagai suami-istri.
Pada suatu sore, Sang Pemuda didampingi ayah dan ibunya melamar Sang Pemudi China di kediaman keluarga Sang Pemudi dan diterimalah lamaran itu. Waktu pernikahanpun kemudian disepakati oleh kedua keluarga yang berbahagia itu.
Pada hari pernikahan tersebut banyak para tamu yang hadir memberikan do'a restunya kepada kedua mempelai. Setelah upacara dan resepsi pernikahan usai, malam itu kedua mempelai bergegas menuju kamar pengantin. Selayaknya pengantin baru, maka keduanya pun bersiap untuk mencurahkan cinta kasihnya masing-masing pada malam pertama itu.
Sang pengantin perempuan dalam posisi berbaring sambil menatap, memperhatikan, dan menghayalkan keberadaan Sang Pengantin laki-laki yang saat itu berada di depannya dan sedang menanggalkan pakaiannya.
Helai demi helai pakaian yang menutupi tubuh tinggi besarnya dibuka dan ditanggalkan. Mulai baju, kaos dalam dan sebagainya. Ketika Sang Pengantin laki-laki melepaskan kain terakhir yang menutupi bagian vitalnya, dan saat itu perhatian Sang Pengantin Perempuanpun tertuju ke arah itu, disertai dorongan berbagai khayalan, keinginan dan perasaan kagum - kaget - senang yang berkumpul dalam dadanya, dengan serta merta Sang Pengantin Perempuan berteriak tertahan :...." Waw.!!!.".
Demi mendengar itu, Sang Pengantin laki-laki merespon dengan kasih : ... Neng, jangan begitu,... ini bukan 'waw' - tapi... 'alif'.
Alkisah diceritakan sepasang muda mudi beda kebangsaan menjalin persahabatan.
Sang pemuda berbangsa Arab dengan perawakan tinggi besar, sedangkan Sang pemudi berbangsa Tionghoa (China) dengan perawakan sedang. Karena keduanya tinggal di wilayah Pasundan, keduanya, juga keluarganya pandai berbahasa Sunda, disamping bahasa nenek moyangnya, yaitu Bahasa Arab dan Bahasa China Mandarin.
Sang Pemuda Arab setiap harinya berkegiatan berniaga, dan suka memasak di waktu-waktu senggangnya. Sementara itu, Sang Pemudi China setiap harinya mengajar anak-anak di taman kelompok bermain. Hampir setiap sore hari Sang Pemudi China ini bertugas memandikan keponakannya yang berumur 6 (enam) tahunan.
Karena seringnya bertemu, bertukar fikiran, dan bercengkerama bersama, persahabatan keduanya berubah menjadi berpacaran, yang 14 bulan berikutnya mereka berjanji setia untuk hidup berdampingan sebagai suami-istri.
Pada suatu sore, Sang Pemuda didampingi ayah dan ibunya melamar Sang Pemudi China di kediaman keluarga Sang Pemudi dan diterimalah lamaran itu. Waktu pernikahanpun kemudian disepakati oleh kedua keluarga yang berbahagia itu.
Pada hari pernikahan tersebut banyak para tamu yang hadir memberikan do'a restunya kepada kedua mempelai. Setelah upacara dan resepsi pernikahan usai, malam itu kedua mempelai bergegas menuju kamar pengantin. Selayaknya pengantin baru, maka keduanya pun bersiap untuk mencurahkan cinta kasihnya masing-masing pada malam pertama itu.
Sang pengantin perempuan dalam posisi berbaring sambil menatap, memperhatikan, dan menghayalkan keberadaan Sang Pengantin laki-laki yang saat itu berada di depannya dan sedang menanggalkan pakaiannya.
Helai demi helai pakaian yang menutupi tubuh tinggi besarnya dibuka dan ditanggalkan. Mulai baju, kaos dalam dan sebagainya. Ketika Sang Pengantin laki-laki melepaskan kain terakhir yang menutupi bagian vitalnya, dan saat itu perhatian Sang Pengantin Perempuanpun tertuju ke arah itu, disertai dorongan berbagai khayalan, keinginan dan perasaan kagum - kaget - senang yang berkumpul dalam dadanya, dengan serta merta Sang Pengantin Perempuan berteriak tertahan :...." Waw.!!!.".
Demi mendengar itu, Sang Pengantin laki-laki merespon dengan kasih : ... Neng, jangan begitu,... ini bukan 'waw' - tapi... 'alif'.
Senin, 22 Februari 2010
PERKEDEL OH PERKEDEL
PERTEMUAN RUTIN MENGKAJI EFEKTIVITAS MODEL
Ketika anda membaca judul di atas, apa yang terfikirkan? Bisa jadi makanan jenis perkedel yang anda fikirkan. Dalam tulisan ini bukan itu yang dimaksudkan. Perkedel dimaknai sebagai kependekan dari Pertemuan Rutin Kaji Efektivitas Model. Istilah tersebut terinspirasi oleh seseorang Pamong Belajar (sebutan tenaga fungsional kependidikan nonformal) yang sangat menyenangi perkedel ini. Perkedel erat dengan tugas pokok pamong belajar, terutama tugas pengembangan model program dan pembelajaran pendidikan nonformal dan informal.
Pengembangan model sangat menuntut pertemuan-pertemuan analisis terhadap gejala, perkembangan suatu prosedur, dan masalah-masalah yang muncul dalam prosedur tersebut. Pertemuan ini berlangsung secara rutin dan insidental, yang pada dasarnya bertujuan untuk menemukan model yang efektif, yaitu model yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah. Karena aktivitas utama pertemuan tersebut adalah analisis/pengkajian, maka pada akhirnya disebutlah pertemuan itu dengan nama PerKEdel.
Ketika anda membaca judul di atas, apa yang terfikirkan? Bisa jadi makanan jenis perkedel yang anda fikirkan. Dalam tulisan ini bukan itu yang dimaksudkan. Perkedel dimaknai sebagai kependekan dari Pertemuan Rutin Kaji Efektivitas Model. Istilah tersebut terinspirasi oleh seseorang Pamong Belajar (sebutan tenaga fungsional kependidikan nonformal) yang sangat menyenangi perkedel ini. Perkedel erat dengan tugas pokok pamong belajar, terutama tugas pengembangan model program dan pembelajaran pendidikan nonformal dan informal.
Pengembangan model sangat menuntut pertemuan-pertemuan analisis terhadap gejala, perkembangan suatu prosedur, dan masalah-masalah yang muncul dalam prosedur tersebut. Pertemuan ini berlangsung secara rutin dan insidental, yang pada dasarnya bertujuan untuk menemukan model yang efektif, yaitu model yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah. Karena aktivitas utama pertemuan tersebut adalah analisis/pengkajian, maka pada akhirnya disebutlah pertemuan itu dengan nama PerKEdel.
Kamis, 23 Juli 2009
MASIH CARA TRADISIONAL, KASIHAN RAKYAT
CARA KERJA TRADISIONAL CEDERAI RAKYAT
Sebagai seorang muslim tentu selalu berusaha agar hari esok lebih baik dari hari ini. Dalam hal pengucuran Bantuan Operasional Program-BOP Kursus dan PKH Kepemudaan (dulu dikenal blockgrant) pun saya selalu berusaha untuk lebih baik daripada yang sudah dilakukan pada tahun yang lalu. Usaha itu telah saya koordinasikan dengan penanggungjawab program dan disepakati salah satunya tentang prosedur dan kualifikasi tenaga penilaiannya. Pendek kata saya diminta sebagai salah satu unsur tim penilai dan mengkoordinir penilaian proposal BOP Kursus. Awalnya berjalan sesuai dengan rancangan dan kesepakatan, tetapi pada saat mobilisasi tenaga visitor/verifikator rancangan dan kesepakatan mulai "dikhianati". Kualifikasi visitor/verifikator dibuat serampangan (saenake dewek). Kemudian tim verifikator tidak disiapkan sepenuh hati (termasuk instrumennya), dan setelah verifikasi tidak pula dibuat SIDANG PENETAPAN PENERIMA BOP yang diikuti tim penilai, verifikator dan penanggungjawab BOP. Yang lebih "parah" Surat Keputusan Lembaga penerima BOP terbit tanpa dasar berita acara penilaian BOP (sbg unsur tim penilai, saya belum pernah menandatangani berita acara tsb). INILAH CARA-CARA TRADISIONAL KERJA BIROKRAT YANG MENCEDERAI KEPERCAYAAN RAKYAT. astaghfirullah aladziim.
Sebagai seorang muslim tentu selalu berusaha agar hari esok lebih baik dari hari ini. Dalam hal pengucuran Bantuan Operasional Program-BOP Kursus dan PKH Kepemudaan (dulu dikenal blockgrant) pun saya selalu berusaha untuk lebih baik daripada yang sudah dilakukan pada tahun yang lalu. Usaha itu telah saya koordinasikan dengan penanggungjawab program dan disepakati salah satunya tentang prosedur dan kualifikasi tenaga penilaiannya. Pendek kata saya diminta sebagai salah satu unsur tim penilai dan mengkoordinir penilaian proposal BOP Kursus. Awalnya berjalan sesuai dengan rancangan dan kesepakatan, tetapi pada saat mobilisasi tenaga visitor/verifikator rancangan dan kesepakatan mulai "dikhianati". Kualifikasi visitor/verifikator dibuat serampangan (saenake dewek). Kemudian tim verifikator tidak disiapkan sepenuh hati (termasuk instrumennya), dan setelah verifikasi tidak pula dibuat SIDANG PENETAPAN PENERIMA BOP yang diikuti tim penilai, verifikator dan penanggungjawab BOP. Yang lebih "parah" Surat Keputusan Lembaga penerima BOP terbit tanpa dasar berita acara penilaian BOP (sbg unsur tim penilai, saya belum pernah menandatangani berita acara tsb). INILAH CARA-CARA TRADISIONAL KERJA BIROKRAT YANG MENCEDERAI KEPERCAYAAN RAKYAT. astaghfirullah aladziim.
Senin, 22 Desember 2008
LEMBAGA ManTep
LEMBAGA MANAJEBEL DAN TERPERCAYA (MANTEP)
Lembaga apapun terutama lembaga yang bergerak dalam pengembangan dan pelayanan masyarakat harus mampu menjadikan dirinya sebagai lembaga ManTep. Pembaca yang budiman dan kritis tentu bertanya, apa yang dimaksud lembaga ManTep?. Dalam peristilahan sehari-hari - mantep (bahasa Indonesia : mantap) merupakan produk sikap dan prilaku manusia yang memilih, menetapkan, mengukuhkan sesuatu setelah mempertimbangkan berbagai hal. Pada tulisan ini, ManTep dimaksudkan sebagai akronim dari kata Man, yang berarti manajebel (manageable), mandiri, dan Tep, yang berarti terpercaya.
Suatu lembaga dinyatakan manajebel ketika lembaga tersebut menampilkan tanda-tanda manajemen yang dilakukannya. Misalnya perencanaan kegiatan lembaga tersebut dilakukan berdasar kaidah-kaidah perencanaan dan mempertimbangkan segala informasi potensi/sumber daya dan permasalahan yang disandang/terjadi di lingkungan internal dan eksternal lembaga tersebut. Salah satu pertanyaan sederhana yang dapat diajukan untuk mengukur kemanajebelan suatu lembaga adalah : Apakah perencanaan kegiatan lembaga tersebut berdasarkan data/informasi yang valid dan realible ?
Mandiri dimaknai (idealnya) tidak bergantung pada apapun dan kepada siapapun. Sejatinya, siapapun tidak bisa mandiri. Oleh sebab itu, mandiri dalam tulisan ini dimaksudkan berusaha sebesar-besarnya tanpa bantuan pihak lain. Lembaga mandiri adalah lembaga yang eksis dan beroperasi atas kemampuan dirinya sendiri dengan sekecil-kecilnya bantuan dari pihak lain.
Terpercaya dimaknai bahwa lembaga mampu menumbuhkan dan memelihara kepercayaan semua pihak yang berinteraksi dengan lembaga tersebut.
Lembaga ManTep adalah suatu lembaga yang dikelola sesuai kaidah dan norma manajemen, mengedepankan optimalisasi sumberdaya atau kemampuan internal lembaga dan kepercayaan pelanggan dalam mengoperasionalkan program dan kegiatan lembaga tersebut.
Setelah kita sepaham tentang makna lembaga ManTep, pertanyaan berikut yang perlu dikedepankan adalah bagaimana caranya mewujudkan lembaga ManTep tersebut ?. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menggapai hal itu, yang pada umumnya dapat dikategorikan menjadi :
1. Kategori aqidah dan ahlaq.
Setiap program/kegiatan lembaga harus dilaksanakan atas dasar Pengabdian kepada Allah SWT (……tidak Aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaKu—al qur’an. ), dan sebenar-benarnya mengedepankan empat pilar/prilaku utama :
a. Program/kegiatan dilaksanakan secara benar;
b. Jujur dalam melaksanakan program/kegiatan;
c. Program/kegiatan merupakan karya cerdas dan dilaksanakan secara cerdas; dan
d. Komunikasi sebagai cara utama dalam menggagas dan melaksanakan program/kegiatan.
2. Kategori teknis.
a. Perencanaan berbasis data;
Lembaga modern selalu bergerak atas dasar analisis data (SWOT) yang benar. Untuk ini, lembaga ManTep harus memiliki data dasar dan peta tentang program dan cakupan kelompok sasarannya, peta potensi/sumberdaya dan masalah.
b. Pengorganisasian dengan mengedepankan optimalisasi sumber daya internal dan bersifat kaya fungsi;
Implementasi analisis sumber daya manusia yang dimiliki lembaga (internal) maupun potensi sumber daya manusia yang dapat di-outsourcing-kan dengan program lembaga (eksternal) adalah formulasi organisasi penyelenggara lembaga dan program, termasuk di dalamnya deskripsi tugas masing-masing unsur organisasi tersebut.
c. Pelaksanaan program/kegiatan secara efektif dan effesien;
Wujud pemecahan masalah adalah orientasi utama pelaksanaan program/kegiatan. Sehingga efesiensi dan effektivitasnya sangat bergantung pada kualitas dan kecepatan pemecahan masalah, yang pada akhirnya menyejahterakan kelompok sasaran langsung dari program lembga tersebut.
d. Pengendalian program dan lembaga secara benar.
Kegiatan ini berfungsi untuk menjaga agar program tetap mampu memecahkan masalah yang dihadapi kelompok sasaran.
Jumat, 19 Desember 2008
Rakyat pun ikut berKORUPSI
Secara sadar, kita setuju bahwa korupsi harus kita berantas. Akan tetapi sebagai pribadi ataupun masyarakat kondisi kita sering terpojok untuk menyetujui (dengan tekanan tertentu) berlangsungnya korupsi yang dilakukan aparat pemerintah. Contohnya seperti kasus yang dipertanyakan peserta pelatihan manajemen PKBM. Pada suatu sessi pembelajaran tentang pemandirian PKBM, demi menanggapi topik starter "Pemandirian PKBM perlu dilandasi oleh niat beribadah kepada Khaliq (Pencipta), dan mengedepankan prilaku jujur, benar, komunikatif, dan cerdas sebagai pilar pemandiriannya" , seorang peserta menanyakan tentang bantuan blockgrant untuk PKBM yang tidak penuh diterimanya, apakah hal itu menyalahi landasan dan pilar pemandirian ?. Dalam diskusi selanjutnya disepakati bahwa apa yang dilakukannya jelas salah, karena nilai kejujuran dan kebenaran diberangus. Kemudian akibatnya dengan terpaksa menerima blockgrant yang dipotong secara illegal oleh aparat. Kondisi tersebut secara sadar telah menciptakan kondusifitas terjadinya korupsi. Lain halnya, ketika kita sebagai masyarakat tidak mau menerima blockgrant yang tak utuh itu. Sikap ini sebetulnya yang harus dilakukan masyarakat, walau kemungkinannya blockgrant itu akan lepas dari kita. Sikap hitam putih inilah yang harus diwujudkan oleh kita pengelola PKBM dalam menyikapi blockgrant. Sehingga pemandirian PKBM secara berkah dan ikhlas dapat terwujud.
Langganan:
Postingan (Atom)